Thursday, July 15, 2010
T.aku.T
Dalam diam takut sering menyergapku
Takut yang angkuh
Takut tak bertuan
Takut atas rasa manusia yang mulai menipis
Lalu masihkah aku manusia?
Manusia dalam takut
Yang merandai takut dengan sampan bergidik
Takut yang akut
Takut yang kuat
Takut dalam metafora dunia
Takut itu hidup dan berwajah.
Berupa manusia…
Friday, July 2, 2010
Juni
Wednesday, June 16, 2010
JIJIK: (a) level akut kebencian
Jijik. Satu kata yang dapat ditafsirkan secara berbeda oleh setiap kepala. Termasuk preferensi kepada siapa atau apa kata itu ditujukan. KBBI menuliskan kata JIJIK sebagai kata sifat dengan arti berikut:
ji·jik a 1 tidak suka melihat (mual dsb) krn kotor, keji, dsb: saya -- akan perangainya; 2 (dipakai sbg) kata seru untuk menyatakan rasa tidak suka (krn keji, kotor, dsb): ai, ai, -- , jangan kau pegang makanan yg penuh lalat itu;
Bagi saya, waktu punya andil mengonstruksi setiap persona. Seiring waktu juga, di kepala saya, terminologi JIJIK telah sampai di titik yang sangat personal. Dengan kata lain, secara pribadi saya memaknai kata JIJIK sebagai lema yang sedikit melenceng, atau terlalu sarkas, dari ketentuan yang ada.
Dalam sistem folder otak saya, kata JIJIK ditempatkan dalam file kebencian dan sebangsanya. Bukan sekedar ketidaksukaan, tetapi lebih dari itu. Saya merumuskan kata JIJIK sebagai lema untuk mendefinisikan ketidaksukaan pada taraf akut. Sebelumnya, tentunya secara positif, saya berusaha semampunya untuk merekonstruksi "ketidaksukaan" tersebut dalam frame permisif, banal, dan skeptis -dalam pengertian sejatinya.
Sekali lagi, saya percaya, waktu punya limit tertentu yang memberi tanda ke sistem syaraf dan otak -bahkan hati sekali pun-, bahwa ambang batas telah terlampaui. Saat itu, kata JIJIK telah mendeklarasikan maknanya pada level akut kebencian.
Untuk Rachel Corrie
Salah satu dari flotilla enam kapal yang mencoba menembus blokade Israel di Gaza itu, dan diserang marinir Israel hingga sekitar sembilan korban tewas, diberi nama "Rachel Corrie".
Tulisan ini dimuat kembali untuk mengenang pengorbanan mereka, orang-orang asing, dari pelbagai agama dan tanah air, yang mati untuk rakyat Palestina.
Rachel Corrie yang ada di surga, selalu kembalilah namamu. Semoga selalu kembali ingatan kepada seseorang yang bersedia mati untuk orang lain dalam umur 23 tahun, seseorang yang memang kemudian terbunuh, seakan-akan siap diabaikan di satu Ahad yang telah terbiasa dengan kematian.
Hari itu 16 Maret yang tak tercatat. Hari selalu tak tercatat dalam kehidupan orang Palestina, orang-orang yang tahu benar, dengan ujung saraf di tungkai kaki mereka, apa artinya "sementara".
Juga di Kota Rafah itu, di dekat perbatasan Mesir, tempat hidup 140 ribu penghuni-yang 60 persennya pengungsi-juga pengungsi yang terusir berulang kali dari tempat ke tempat. Pekan itu tentara Israel datang, seperti pekan lalu, ketika 150 laki-laki dikumpulkan dan dikurung di sebuah tempat di luar permukiman. Tembakan dilepaskan di atas kepala mereka, sementara tank dan buldoser menghancurkan 25 rumah kaca yang telah mereka olah bertahun-tahun dan jadi sumber penghidupan 300 orang-orang-orang yang sejak dulu tak punya banyak pilihan.
Tentara itu mencari "teroris", katanya, dan orang-orang kampung itu mencoba melawan, mungkin untuk melindungi satu-dua gerilyawan, mungkin untuk mempertahankan rumah dan tanah dari mana mereka mustahil pergi, karena tak ada lagi tempat untuk pergi.
Saya bayangkan kini Rachel Corrie di surga, sebab hari itu ia, seorang perempuan muda dari sebuah kota yang tenang di timur laut Amerika Serikat, memilih nasibnya di antara orang-orang di Rafah itu: mereka yang terancam, tergusur, tergusur lagi, dan tenggelam. Hari itu ia melihat sebuah buldoser tentara Israel menderu. Sebuah rumah keluarga Palestina hendak dihancurkan. Dengan serta-merta ia pun berlutut di lumpur. Ia mencoba menghalangi.
Tapi jaket jingga terang yang ia kenakan hari itu tak menyebabkan serdadu di mobil perusak itu memperhatikannya. Prajurit di belakang setir itu juga tak mengacuhkan orang-orang yang berteriak-teriak lewat megafon, mencoba menyetopnya. Buldoser itu terus. Tubuh itu dilindas. Tengkorak itu retak. Saya bayangkan Rachel Corrie di surga setelah itu; ia meninggal di Rumah Sakit Najar.
Rachel yang di surga, selalu kembalilah namamu. Korban dan kematian di hari ini menjadikan kita sebaya rasanya. Kau terbunuh di sebuah masa ketika tragedi dibentuk oleh berita pagi, dan makna kematian disusun oleh liputan yang datang dan pergi dengan sebuah kekuasaan yang bernama CNN. Tahukah kau, di seantero Amerika Serikat, tanah airmu, tak terdengar gemuruh suara protes yang mengikuti jenazahmu?
Tentu kita maklum, bukan singkat ingatan semata-mata yang menyebabkan sikap acuh tak acuh setelah kematianmu di hari itu. Bayangkanlah betapa akan sengitnya amarah orang dari Seattle sampai dengan Miami, dari Gurun Mojave sampai dengan Bukit Capitol, seandainya kau, seorang warga negara Amerika, tewas di tangan seorang Palestina yang melempar batu.
Tapi kau tewas di bawah buldoser tentara Israel; kau berada di pihak yang keliru, anakku. Itulah memang yang diutarakan beberapa orang di negerimu ketika mereka menulis surat ke The New York Times. Mereka menyalahkanmu. Sebab kau datang, bersama tujuh orang Inggris dan Amerika lain, untuk menjadikan tubuhmu sebuah perisai bagi keluarga-keluarga Palestina yang menghadapi kekuatan besar pasukan Israel di kampung halaman mereka.
Kau melindungi teroris, kata mereka. Meskipun sebenarnya kau datang dari Olympia, di dekat Teluk Selatan Negara Bagian Washington, bergabung dengan International Solidarity Movement, untuk mengatakan: "Ini harus berhenti."
Kau salah, Rachel, kata mereka. Tapi kenapa? Dalam sepucuk e-mail bertanggal 27 Februari 2003 yang kemudian diterbitkan di surat kabar The Guardian, kau menulis, "Kusaksikan pembantaian yang tak kunjung putus dan pelan-pelan menghancurkan ini, dan aku benar-benar takut.... Kini kupertanyakan keyakinanku sendiri yang mendasar kepada kebaikan kodrat manusia. Ini harus berhenti."
Saya bayangkan Rachel di surga, saya bayangkan ia agak sedih. Ia dalam umur yang sebenarnya masih pingin pergi dansa, punya pacar, dan menggambar komik lagi untuk teman-teman sekerjanya. Tapi di sini, di Rafah, ada yang ingin ia stop; bersalahkah dia? Beberapa kalimat dalam surat kepada ibunya menggambarkan perasaannya yang intens: "Ngeri dan tak percaya, itulah yang kurasakan. Kecewa."
Ia kecewa melihat "realitas yang tak bermutu dari dunia kita". Ia kecewa bahwa dirinya ikut serta di kancah realitas itu. "Sama sekali bukan ini yang aku minta ketika aku datang ke dunia ini," tulisnya. "Bukan ini dunia yang Mama dan Papa inginkan buat diriku ketika kalian memutuskan untuk melahirkanku."
Apa yang mereka inginkan, Rachel, dan apa yang kau minta?
Berangsur-angsur kau pun tahu: kau tak menghendaki sebuah rumah yang begitu nyaman, begitu "Amerika", hingga si penghuni tak menyadari sama sekali bahwa ia sebenarnya berpartisipasi secara tak langsung dalam sesuatu yang keji, yakni "dalam pembantaian".
Itulah sebabnya kau berangkat ke Palestina. "Datang ke sini adalah salah satu hal yang lebih baik yang pernah kulakukan," begitu kau tulis pada 27 Februari 2003. "Maka jika aku terdengar seperti gila, atau bila militer Israel meninggalkan kecenderungan rasialisnya untuk tak melukai orang kulit putih, tolong, cantumkanlah alasan itu tepat pada kenyataan bahwa aku berada di tengah pembantaian yang juga aku dukung secara tak langsung, dan yang pemerintahku sangat ikut bertanggung jawab."
Ia menuduh dirinya sendiri ikut bersalah. Tapi ia meletakkan kesalahan yang lebih besar pada pemerintahnya.
Rasanya ia betul. Saya kira ia bahkan bisa juga menggugat jutaan orang Amerika lain yang senantiasa membenarkan apa yang dilakukan Ariel Sharon-hingga dalam keadaan perang dengan Irak sekalipun, dari Washington, DC, datang tawaran satu triliun dolar untuk bantuan militer langsung kepada Israel, di celah-celah berita tentang orang Palestina yang ditembak dan dihalau, di antara kabar tentang anak-anak Palestina yang tewas. Bukan main-cuma beberapa hari setelah seorang Amerika tewas ditabrak buldoser di Kota Rafah!
Jika ada kepedihan hati di sana, kau pasti mengetahuinya lebih intim, Rachel. Dari lumpur Kota Rafah itu kau pasti mengerti apa yang jarang dimengerti orang Amerika: kekerasan bisa muncul di puing-puing itu, sebagai bagian dari usaha untuk, seperti kau katakan dalam suratmu, "melindungi fragmen apa pun yang tersisa".
Kau akan bisa menunjukkan bahwa Usamah bin Ladin dan Saddam Hussein, dengan wajah mereka yang setengah gelap, menjadi penting karena mereka bisa bertaut dengan gaung Palestina di mana segalanya telah direnggutkan. Sampai hari ini, yang terdengar sebenarnya adalah sebuah gema dari geram bertahun-tahun yang terkadang kacau, terkadang keras, dan senantiasa kalah.
Senantiasa kalah-di Yerusalem, di Kabul, di Bagdad.
Tapi adakah kalah segala-galanya? Tidak, kau pasti akan bilang, semoga tidak. Dalam suratmu bertanggal 28 Februari, kau ceritakan kepada ibumu sesuatu yang menyebabkan engkau merasa lebih mantap sedikit, di antara perasaan pahitmu menyaksikan hidup yang dibangun oleh ketidakadilan. Tak semuanya ternyata hanya ngeri, tak percaya, dan kecewa. Di celah-celah luka yang merundung penghuni Palestina yang kau kenal di Rafah, kau menemukan sesuatu yang tidak pernah kau lihat dalam hidupmu sebelumnya: "...satu derajat kekuatan dan kemampuan dasar manusia untuk tetap menjadi manusia". Dan kau punya sepatah kata untuk itu: dignity.
Tapi apa kiranya yang bisa didapat dari dignity, dari harga diri, yang menyebabkan manusia tak melata di atas debu sebelum menggadaikan segala-galanya? Tak banyak, juga sangat banyak.
Yang lemah akan tetap roboh. Tapi di depan tubuh yang tergeletak di lumpur, tubuh yang terjerembap dan menuding ketidakadilan, kemenangan sang superkuat sekalipun akan terhenti: ia hanya ibarat sebuah buldoser yang sekadar menghancurkan. Genggaman itu kosong. Penaklukan itu ilusi.
Ya, Rachel yang ada di surga, semoga namamu selalu akan kembali. Kini memang saya bimbang. Tapi masih ingin saya percaya bahwa tak mustahil akan ada sebuah ruang di mana yang lemah tak terusir, dan yang lain bisa sewaktu-waktu berteriak "Stop kau!"-dan sebab itu merdeka.
Goenawan Mohamad
- Kolom ini pernah dimuat di Tempo edisi 30 Maret 2003.
Akar
Ia memaksaku bergerak lebih cepat dengan mendorong tepat di bokongku. Sedetik kemudian ia menempel ke arah tubuhku. Sangat dekat. Ternyata seorang ibu tua dengan langkah cuek dan buru-buru. Setelah tiket ku beri, reflek mataku mengikuti langkah si ibu. Oh...aku mengerti, ia tak punya tiket kereta. Ia memanfaatkan posturku yang lebih tinggi darinya untuk main petak umpet dengan petugas. Hmmm...
Aku masih mengikuti langkah Ibu Lala dan dua rekannya. Walaupun sudah berumur, ia masih cekatan. Ia masih sempat menyelingi perjalanan di rel itu dengancandaan yang segar. "Bowo...Bowo...Wo!" Tak sengaja mataku menangkap bayangan seseorang. Ya, dia si Bowo, teman sekantor yang sudah resign setahun yang lalu."Woi, Pan apa kabar?" Matanya seperti tidak percaya kita akan bertemu di suatu sore di antara keramaian orang-orang.
"Kok bisa di sini," Bowo bertanya. "Oh, ada urusan dikit. Biasa, soal kuliah," jawabku. Tak lebih dua menit perbincangan kami ketika Bowo melihat di seberang rel Ibu Lala dan dua rekanya pun turut menghentikan langkah mereka. "Mereka dah menunggu tuh. Sampai ketemu lagi. Sukses ya!" "Thank you Wo. Sukses juga ya!" balasku. "Itu tuh angkotnya," seru Bu Lala. Wanita tua ini mempersilahkan aku dan rekannya untuk naik terlebih dahulu. Tapi aku malah tersenyum dan mempersilahkan dirinya untuk masuk terlebih dahulu. Angkot itu tak butuh waktu lama untuk penuh. Segera sang supir menjalankan mobil tersebut sambil terus bercanda dengan keneknya.
Sudah lama rasanya tidak begini. Rumah, kantor, kampus, rumah. Semua waktu berputar di situ, bagai katak dalam tempurung. Tepatnya, katak dalam beberapa tempurung. Sore ini seperti sebuah perjalanan yang penuh kejutan. Tadi pun sebelum turun kereta, aku sempat bertemu dengan seorang OB di kantor. Ternyata, seminggu sekali ia pulang ke rumah orangtuanya di Bogor. Satu lagi, ini adalah perjalananku naik kereta setelah hampir setengah tahun tak merasakan transportasi ini. Kereta, kendaraan umum yang menjadi cermin kerasnya hidup di kota. Pada waktu-waktu tertentu, alat transportasi ini kerap tak manusiawi. Jelas saja, ia hanya seonggok besi.
Walau begitu, tetap saja si ular besi [tua] ini dijejali penumpangnya. Entah karena alasan murah meriah atau karena tak kenal macet. Tapi sekali mogok, perbaikannya bikin penumpang naik pitam. Aku termasuk satu dari sekian orang yang kerap geram dengan alat transportasi ini. Sebenarnya bukan kepada si keretanya, tapi kepada institusi yang 'memelihara'nya. Maklum, waktu dibeli, status si ular besi kan 'bekas'. Lantas sampai di Tanah Airku ini dipaksa bekerja layaknya kereta baru. Ya, ironi sekali. Padahal, moda transportasi ini punya potensi besar untuk mengurangi penyakit kronik ibu kota: macet.
"Baru sebulan diaspal," seloroh Bu Lala, "makanya trayek angkotnya juga baru nih." Sebelumnya wanita baya ini harus berangkat subuh, berjalan kaki untuk sampai di Stasiun Bojong Gede. Sore pun demikian. Ba'da Magrib ia baru menapaki halaman rumahnya. Tak terbayang berapa tapak kaki yang sudah ia jejakkan selama ini, menyusuri jalanan antara rumah dan Stasiun Bojong Gede.
Sudah hampir 20 menit angkot ini melaju. Tak jauh dari sebuah tikungan--entah yang keberapa--angkot berhenti. Tepat di depan dua rumah yang berderet di sebelah kanan jalan. "Ayo, kita turun,"ajak Bu Lala sambil menunjuk sebuah rumah kayu. "Itu rumah ibu." Sambil tersenyum malu, Bu Lala mempersilahkan aku masuk. Lagi-lagi dengan suara yang memohon pemakluman. Iya, ini ideku yang sedikit memaksa ingin berkunjung ke rumah beliau.
"Kita makan singkong rebus, ya. Doyan kan?" tanya Bu Lala. "Saya mah apa aja, Bu," jawabku. Di rumah sederhana ini aku disambut hangat. Merasa ada di dunia yang jauh dari hiruk-pikuk. Serasa menyelami dan menemukan makna hidup dari 'kepala-kepala' yang berbeda. Dekat dan nyata.
Mengalirlah banyak cerita selama hampir tiga jam berbincang-bincang dengan keluarga Bu Lala. Ia belum lama ditinggalkan suami tercinta. Memang umur mereka cukup terpaut jauh. Waktu itu mereka bertemu di sebuah toko bangunan, tempat mereka mengadu nasib. Tak sampai setahun pacaran, mereka memutuskan menikah. Sampai akhirnya, nyawa yang memisahkan mereka.
Sejak sang suami berpulang, Bu Lala kembali menjalani aktivitasnya. Mungkin juga untuk membunuh kesedihan dan kesepiannya. Ia kembali dengan pekerjaannya yang sebenarnya mengharuskan ia tetap bergaul dengan si besi [tua] yang tidak manusiawi itu. Namun, ia menikmatinya. "Saya senang kalo lihat mahasiswa, serasa saya sekolah lagi," kata Bu Lala tersenyum. Ia memang akrab dengan kampus, tetapi ia mungkin orang yang jauh dari pandangan kebanyakan. Tapi bagi saya, pekerjaannya sangat mulia. Ia mencintai dan bangga dengan pekerjaannya.
Begitulah Bu Lala kalau diajak bercerita tentang pekerjaannya sebagai tukang sapu di sebuah kampus terkemuka di negeri ini. Seketika matanya akan berbinar ceria. Bagaimana tidak, sudah lebih dari 10 tahun ia menekuni pekerjaannya. Pernah keluar, masuk lagi, keluar lagi, dan akhirnya kembali lagi. Ia pun bisa dibilang paling senior di antara tukang sapu lainnya. Tapi ia tetap lincah, semangat, dan [yang selalu membuatku kagum] mencintai pekerjaannya.
Pernah suatu hari, seorang bapak dan istrinya menghampiri Bu Lala dan menawarkannya pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga. Namun, Bu Lala dengan halus menolaknya. Tak menyerah begitu saja, suami-istri tersebut balik lagi. “Nggak deh Pak, biarin. Gaji murah juga, saya udah enak di sini,” Bu Lala tetap menolak tawaran tersebut. “Kok Ibu bisa bilang begitu? Tukang sapu kan hina," balas si bapak yang ternyata seorang dosen di kampus itu.
Melihat dunia ini dari mata 'mereka', menghadirkan sindiran kepada diri sendiri. Banyak hal-hal kecil di sekitar yang terlewati begitu saja. Padahal, banyak makna yang mereka titipkan. Makna yang mendefinisikanku hari ini. Bu Lala hanya satu potret dari sekian ketabahan akar-akar rerumputan yang tiap hari digilas jejak manusia dan terik matahari.
Tuesday, June 15, 2010
Langit
Cerita-cerita di bumi dititipkan
Dituturkan pada pagi, pada gemercik embun yang pulang
Lalu pada kabut yang turun malam ini,
Kisah-kisah itu beringsut ke udara
Meniti kelam dan menapaki langit
Berpendar tabah dalam keheningan hambar
Di ujung fajar,
Sebuah babad berujar dari relung langit
dari gelisah yang tersisa
yang tak sempat terucap karena pekatnya malam
Kepada pagi beku,
Bumi bercermin malu
Mengoreksi sisa-sisa noda dari romannya yang menua
Hari ini, langit tetap sama,
menyisakan ruang bagi segala saga
Juga untuk tambo-tambo hitam manusia
Dan segala epik di bumi
Pada langit, kuyakini,
Kidung bumi bersemayam
Bulan
Kemarin, bulan menyapaku di balik jendela. Cahayanya mencair, lalu meresap ke serat-serat mimpiku. Di batas fajar ia berbisik pelan, ia masih menjaga mimpinya sampai hari ini. Baginya itu bukan sekadar mimpi, tetapi juga gelora.
Semalam, dia menghiburku dalam kesendirian. Sinarnya turut beku di lipatan angin. Tapi dia menyisakan sebentuk senyum. Aku belum bisa memejamkan mata.
Pagi ini aku terbangun dalam diam, tapi tidak dengan otakku. Bulan, ya, ia menitip cerita padaku semalam. Tapi apakah gerangan itu? Sebentuk salam, secarik pesan, atau selembar risau? Aku lupa. Untuk apa ia katakan itu padaku? Aku tak punya jawaban.
Lantas, aku menyimpan rindu pada malam, bahkan sangat dalam. Berteman sengat surya hari ini, menyeretku dalam waktu yang melemah. Setiap detik enggan beranjak. Bumi melambat. Kapan malam akan tiba?
Di balik jendela aku menunggumu lagi. Aku sudah menyiapkan seratus alasan, seribu argumen, dan jutaan pertanyaan. Aku ingin dia meluangkan waktu untukku. Aku akan menahannya dengan argumenku.
Aku masih di jendela ini. Sedikit membatu. Tapi dia tak kunjung datang.
Maafkan aku terlambat. Aku tadi di belahan bumi lain. Di sana, aku bisa menari dalam riang. Aku berkawan miliaran cerita dari jutaan mimpi dan impian manusia-manusia di
Tahukah kau, aku mencuri cahaya itu untukku dan membawanya untukmu. Aku ingin kau pun bercahaya, seperti orang-orang itu. Kau pantas memilikinya. Itulah yang membedakan kita berdua.
Aku hanya peminjam. Aku tidak memiliki cahaya itu. Tapi aku tak takut bermimpi. Aku tak gentar memiliki impian.
Aku mengenalmu lewat impian-impianmu yang tersisa. Dari pendar cahayamu yang melemah. Mungkin hampir tengelam. Kau pasti tak ingin melihat pekatnya malam setiap matahari pulang? Aku datang menjemput setiap mimpi dan impianmu. Dan memelihara mereka agar menemanimu menjaga bumi.
Planet ini orang tuaku. Ia semakin renta. Semakin miskin cahaya, karena manusia lebih sering mengaborsi mimpi dan impian mereka.