Kemarin, bulan menyapaku di balik jendela. Cahayanya mencair, lalu meresap ke serat-serat mimpiku. Di batas fajar ia berbisik pelan, ia masih menjaga mimpinya sampai hari ini. Baginya itu bukan sekadar mimpi, tetapi juga gelora.
Semalam, dia menghiburku dalam kesendirian. Sinarnya turut beku di lipatan angin. Tapi dia menyisakan sebentuk senyum. Aku belum bisa memejamkan mata.
Pagi ini aku terbangun dalam diam, tapi tidak dengan otakku. Bulan, ya, ia menitip cerita padaku semalam. Tapi apakah gerangan itu? Sebentuk salam, secarik pesan, atau selembar risau? Aku lupa. Untuk apa ia katakan itu padaku? Aku tak punya jawaban.
Lantas, aku menyimpan rindu pada malam, bahkan sangat dalam. Berteman sengat surya hari ini, menyeretku dalam waktu yang melemah. Setiap detik enggan beranjak. Bumi melambat. Kapan malam akan tiba?
Di balik jendela aku menunggumu lagi. Aku sudah menyiapkan seratus alasan, seribu argumen, dan jutaan pertanyaan. Aku ingin dia meluangkan waktu untukku. Aku akan menahannya dengan argumenku.
Aku masih di jendela ini. Sedikit membatu. Tapi dia tak kunjung datang.
Maafkan aku terlambat. Aku tadi di belahan bumi lain. Di sana, aku bisa menari dalam riang. Aku berkawan miliaran cerita dari jutaan mimpi dan impian manusia-manusia di
Tahukah kau, aku mencuri cahaya itu untukku dan membawanya untukmu. Aku ingin kau pun bercahaya, seperti orang-orang itu. Kau pantas memilikinya. Itulah yang membedakan kita berdua.
Aku hanya peminjam. Aku tidak memiliki cahaya itu. Tapi aku tak takut bermimpi. Aku tak gentar memiliki impian.
Aku mengenalmu lewat impian-impianmu yang tersisa. Dari pendar cahayamu yang melemah. Mungkin hampir tengelam. Kau pasti tak ingin melihat pekatnya malam setiap matahari pulang? Aku datang menjemput setiap mimpi dan impianmu. Dan memelihara mereka agar menemanimu menjaga bumi.
Planet ini orang tuaku. Ia semakin renta. Semakin miskin cahaya, karena manusia lebih sering mengaborsi mimpi dan impian mereka.
No comments:
Post a Comment