Wednesday, June 16, 2010

Akar

"Ayo...ayo...karcisnya mana?" Suara penagih karcis itu tenggelam oleh riuhnya langkah para manusia yang tampaknya lekas ingin sampai ke rumah. Beberapa saling dorong. Sedikit celotehan meramaikan sore di sebuah peron stasiun kereta."Eittt...gila nih ibu," aku kaget. Sebelum tanganku yang memegang karcis mencapai tangan si petugas, seorang mendorongku dari belakang dengan cara yang sedikit mengganggu.

Ia memaksaku bergerak lebih cepat dengan mendorong tepat di bokongku. Sedetik kemudian ia menempel ke arah tubuhku. Sangat dekat. Ternyata seorang ibu tua dengan langkah cuek dan buru-buru. Setelah tiket ku beri, reflek mataku mengikuti langkah si ibu. Oh...aku mengerti, ia tak punya tiket kereta. Ia memanfaatkan posturku yang lebih tinggi darinya untuk main petak umpet dengan petugas. Hmmm...

Aku masih mengikuti langkah Ibu Lala dan dua rekannya. Walaupun sudah berumur, ia masih cekatan. Ia masih sempat menyelingi perjalanan di rel itu dengancandaan yang segar. "Bowo...Bowo...Wo!" Tak sengaja mataku menangkap bayangan seseorang. Ya, dia si Bowo, teman sekantor yang sudah resign setahun yang lalu."Woi, Pan apa kabar?" Matanya seperti tidak percaya kita akan bertemu di suatu sore di antara keramaian orang-orang.

"Kok bisa di sini," Bowo bertanya. "Oh, ada urusan dikit. Biasa, soal kuliah," jawabku. Tak lebih dua menit perbincangan kami ketika Bowo melihat di seberang rel Ibu Lala dan dua rekanya pun turut menghentikan langkah mereka. "Mereka dah menunggu tuh. Sampai ketemu lagi. Sukses ya!" "Thank you Wo. Sukses juga ya!" balasku. "Itu tuh angkotnya," seru Bu Lala. Wanita tua ini mempersilahkan aku dan rekannya untuk naik terlebih dahulu. Tapi aku malah tersenyum dan mempersilahkan dirinya untuk masuk terlebih dahulu. Angkot itu tak butuh waktu lama untuk penuh. Segera sang supir menjalankan mobil tersebut sambil terus bercanda dengan keneknya.

Sudah lama rasanya tidak begini. Rumah, kantor, kampus, rumah. Semua waktu berputar di situ, bagai katak dalam tempurung. Tepatnya, katak dalam beberapa tempurung. Sore ini seperti sebuah perjalanan yang penuh kejutan. Tadi pun sebelum turun kereta, aku sempat bertemu dengan seorang OB di kantor. Ternyata, seminggu sekali ia pulang ke rumah orangtuanya di Bogor. Satu lagi, ini adalah perjalananku naik kereta setelah hampir setengah tahun tak merasakan transportasi ini. Kereta, kendaraan umum yang menjadi cermin kerasnya hidup di kota. Pada waktu-waktu tertentu, alat transportasi ini kerap tak manusiawi. Jelas saja, ia hanya seonggok besi.

Walau begitu, tetap saja si ular besi [tua] ini dijejali penumpangnya. Entah karena alasan murah meriah atau karena tak kenal macet. Tapi sekali mogok, perbaikannya bikin penumpang naik pitam. Aku termasuk satu dari sekian orang yang kerap geram dengan alat transportasi ini. Sebenarnya bukan kepada si keretanya, tapi kepada institusi yang 'memelihara'nya. Maklum, waktu dibeli, status si ular besi kan 'bekas'. Lantas sampai di Tanah Airku ini dipaksa bekerja layaknya kereta baru. Ya, ironi sekali. Padahal, moda transportasi ini punya potensi besar untuk mengurangi penyakit kronik ibu kota: macet.

***

"Baru sebulan diaspal," seloroh Bu Lala, "makanya trayek angkotnya juga baru nih." Sebelumnya wanita baya ini harus berangkat subuh, berjalan kaki untuk sampai di Stasiun Bojong Gede. Sore pun demikian. Ba'da Magrib ia baru menapaki halaman rumahnya. Tak terbayang berapa tapak kaki yang sudah ia jejakkan selama ini, menyusuri jalanan antara rumah dan Stasiun Bojong Gede.

Sudah hampir 20 menit angkot ini melaju. Tak jauh dari sebuah tikungan--entah yang keberapa--angkot berhenti. Tepat di depan dua rumah yang berderet di sebelah kanan jalan. "Ayo, kita turun,"ajak Bu Lala sambil menunjuk sebuah rumah kayu. "Itu rumah ibu." Sambil tersenyum malu, Bu Lala mempersilahkan aku masuk. Lagi-lagi dengan suara yang memohon pemakluman. Iya, ini ideku yang sedikit memaksa ingin berkunjung ke rumah beliau.

"Kita makan singkong rebus, ya. Doyan kan?" tanya Bu Lala. "Saya mah apa aja, Bu," jawabku. Di rumah sederhana ini aku disambut hangat. Merasa ada di dunia yang jauh dari hiruk-pikuk. Serasa menyelami dan menemukan makna hidup dari 'kepala-kepala' yang berbeda. Dekat dan nyata.

Mengalirlah banyak cerita selama hampir tiga jam berbincang-bincang dengan keluarga Bu Lala. Ia belum lama ditinggalkan suami tercinta. Memang umur mereka cukup terpaut jauh. Waktu itu mereka bertemu di sebuah toko bangunan, tempat mereka mengadu nasib. Tak sampai setahun pacaran, mereka memutuskan menikah. Sampai akhirnya, nyawa yang memisahkan mereka.

Sejak sang suami berpulang, Bu Lala kembali menjalani aktivitasnya. Mungkin juga untuk membunuh kesedihan dan kesepiannya. Ia kembali dengan pekerjaannya yang sebenarnya mengharuskan ia tetap bergaul dengan si besi [tua] yang tidak manusiawi itu. Namun, ia menikmatinya. "Saya senang kalo lihat mahasiswa, serasa saya sekolah lagi," kata Bu Lala tersenyum. Ia memang akrab dengan kampus, tetapi ia mungkin orang yang jauh dari pandangan kebanyakan. Tapi bagi saya, pekerjaannya sangat mulia. Ia mencintai dan bangga dengan pekerjaannya.

Begitulah Bu Lala kalau diajak bercerita tentang pekerjaannya sebagai tukang sapu di sebuah kampus terkemuka di negeri ini. Seketika matanya akan berbinar ceria. Bagaimana tidak, sudah lebih dari 10 tahun ia menekuni pekerjaannya. Pernah keluar, masuk lagi, keluar lagi, dan akhirnya kembali lagi. Ia pun bisa dibilang paling senior di antara tukang sapu lainnya. Tapi ia tetap lincah, semangat, dan [yang selalu membuatku kagum] mencintai pekerjaannya.

Pernah suatu hari, seorang bapak dan istrinya menghampiri Bu Lala dan menawarkannya pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga. Namun, Bu Lala dengan halus menolaknya. Tak menyerah begitu saja, suami-istri tersebut balik lagi. “Nggak deh Pak, biarin. Gaji murah juga, saya udah enak di sini,” Bu Lala tetap menolak tawaran tersebut. “Kok Ibu bisa bilang begitu? Tukang sapu kan hina," balas si bapak yang ternyata seorang dosen di kampus itu.

***

Melihat dunia ini dari mata 'mereka', menghadirkan sindiran kepada diri sendiri. Banyak hal-hal kecil di sekitar yang terlewati begitu saja. Padahal, banyak makna yang mereka titipkan. Makna yang mendefinisikanku hari ini. Bu Lala hanya satu potret dari sekian ketabahan akar-akar rerumputan yang tiap hari digilas jejak manusia dan terik matahari.

No comments:

Post a Comment