Hari semakin tua di pelupukmu
juga mahkotamu yang mulai memutih
Pahatan waktu hinggap di kulitmu
menuturkan sangkala yang telah kau tundukkan
Ada rindu yang kau simpan,
kepada laki-lakimu yang dulu selalu di sampingmu
meneguhkan langkahmu di siang bolong tanpa nama
mengayuh sampanmu di telaga malam berjenama hidup
lalu, sebuah tangisan yang sering kau sembunyikan di balik senyummu
Sering ku terbangun dalam takut
Menjumpaimu di mimpi tak bertuan
Entahlah,
menyusul air mata menenangkan ku dalam gelap
Tatapanmu masih terngiang
Matamu yang berkaca dan lembutnya pelukanmu melepasku
Aku menitipkan sebulir air mata di pundak bajumu
sebab ku harus tersenyum di depanmu
Ibu, selalu ada rindu untukmu…
No comments:
Post a Comment