Thursday, July 15, 2010

Entahlah

Kepada luka yang lama bersembunyi di kaki malam,lewat sedikit cahaya, ada resah yang ingin disampaikan pada pekatnya kabut. Kemarin, ketika matahari merendah, kicau burung mengisahkan gelisah yang akut. Mereka belum ingin beranjak sebelum mentari menarik diri dari serpihan hujan. Bulu-bulu mereka basah dan kepakannya begitu membumi hingga seperti tak pernah berlabuh setelah sekian abad.

Seekor bertanya kepada temannya, "Mungkinkah sang siang rela meninggalkan hari dalam kekalutan ini?" "Jauh di sana ada yang menahan tanyanya di dasar nafsunya, karena mereka menyaksikan raja siang menanggalkan keangkuhannya petang ini," seekor lainnya menjawab. "Lalu, dia belum menunjukkan sedikit tanda-tanda," desah seekor yang memulai labirin pertanyaan ini. "Tak kau rasa kah, angin mulai gelisah dalam beku. Mulai menggeliatkan instingnya mencari arah berlari. Dengan situasi ini, tampaknya kita harus berdamai dengan waktu. Menyempatkan, setidaknya, sedikit ruang kesabaran untuk mendengar desau hujan yang sedang melagu."

No comments:

Post a Comment